Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

May 6, 2014

RAGAM BAHASA

A.     BATASAN RAGAM BAHASA
Bahasa Indonesia sangatlah bervariasi dalam pemakaian sehari-hari, banyak variasi pengunaan dan pengucapannya, variasi tersebut disebut ragam. Adapun ragam bnahasa menurut KBBI adalah varian bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraan.
Kridalaksana (dalam Nasucha, dkk., 2012:14) mengemukakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakainya yang dibedakan menurut topic,hubungan pelaku, dan medium pembicaraan.


B.     JENIS-JENIS RAGAM BAHASA
Jenis-jenis ragam bahasa ada beberapa kategori seperti jenis yang berdasarkan pokok pembicaraan, media pembicaraan, menurut hubungan antar pembicara.
Adapun ragam bahasa yang berdasarkan pokok pembicaraan/ pokok persoalan dibedakan antara lain:
1.      Ragam bahasa Ilmiah.
Ragam bahasa ilmiah adalah ragam bahasa yang berdasarkan pada pengelompokan menurut jenis pemakaian dalam bidang kegiatan yang bersifat keilmuan, dan ditujukan kepada lingkungan keahlian tertentu yang bertumpu pada pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah, dengan langkah-langkah yang teratur, tertata, dan terkontrol.
Ciri- ciri ragam bahasa ilmiah antara lain:
-         Menggunakan bahasa baku;
-         Menggunakan kalimat yang efektif;
-         Menghindari makna ganda;
-         Menggunakan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
-         Menghindari penonjolan pesona dalam pemakaian dengan tujuan menjaga objektivitasnya.
2.      Ragam bahasa Jurnalistik.
Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang sering digunakan oleh para wartawan/ jurnalis dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa.
Bahasa jurnalistik memiliki karakter berbeda-beda berdasarkan jenis berita apa yang akan diberitakan. Karakteristik bahasa jurnalistik tersebut dipengaruhi oleh penentuan masalah, jenis tulisan, pembagian tulisan, serta sumber/bahan tulisan. Tapi bahasa jurnalistik ini tidak boleh meninggalkan kaedah bahasa baku dalam hal pemakaian kosa kata, struktur sintaksis, dan wacana.
Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat yang khas yaitu; singkat, padat, jelas, sederhana, lugas, menarik, dan kosa kata yang digunakan mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.
3.      Ragam bahasa Sastra.
Ragam bahasa sastra adalah salah satu bahasa yang digunakan untuk menymapaikan pikiran dan perasaan, fantasi dan imajinasi, penghayatan lahir dan batin, peristiwa atau kejadian dan khayalan dengan bentuk-bentuk bahasa menurut tatanan khusus dalam penuturannya, tetapi kekhususan tatanan tersebut bukan merupakan rancak atau sedapnya didengar atau dibaca, melainkan karena kekuatan efek kepada pendengar atau pembacanya. Adapun yang biasa digunakan sastrawan untuk mempertinggi efek penuturannya menggunakan arti, bunyi, asosiasi, irama, tekanan, suara, penyesuaian bunyi kata, sajak, asonansi, aliterasi ulangan kata/kalimat.
Ciri-ciri dari ragam bahasa sastra antara lain;
-         Menggunakan bahasa yang tidak baku;
-         Menggunakan kalimat yang tidak efektif;
-         Adanya rangkaian kata yang bermakna konotasi.
4.      Ragam bahasa Bisnis.
Ragam bahasa bisnis adalah ragam yang digunakan dalam urusan bisnis. Ciri-ciri ragam bahasa bisnis antara lain:
-         Menggunakan bahasa yang komunikatif;
-         Menggunakan bahasa yang cenderung resmi;
-         Terikat oleh ruang dan waktu;
-         Membutuhkan adanya orang lain.
Adapun berdasarkan media pembicaraan dibedakan atas:
1.      Ragam bahasa Lisan.
Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang diungkapkan lewat media lisan, yang terkait oleh masalah waktu dan tempat sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ciri dari bahasa lisan antara lain:
-         Memerlukan orang kedua atau teman bicara;
-         Tergantung situasi, kondisi, ruang, dan waktu;
-         Hanya perlu intonasi dan gerak tubuh;
-         Berlangsung cepat;
-         Sering berlangsung tanpa alat bantu;
-         Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
Dan yang termasuk dari ragam bahasa lisan antara lain:
-         Ragam bahasa cakapan.
-         Ragam bahasa pidato.
-         Ragam bahasa kuliah.
-         Ragam bahasa panggung.

2.      Ragam bahasa Tulis.
Ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Ragam bahasa tulis ini berurusan dengan tata cara penulisan(ejaan) disamping aspek tata bahasa dan kosa kata
-         Ragam bahasa teknis.
-         Ragam bahasa undang-undang.
-         Ragam bahasa catatan.
-         Ragam bahasa surat.
Adapun berdasarkan menurut hubungan antar pembicara dibedakan dari akrab tidaknya pembicara.
1.      Ragam bahasa resmi.
2.      Ragam bahasa akrab.
3.      Ragam bahasa agak resmi.

4.      Ragam bahasa santai.

March 25, 2014

SEJARAH dan PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

A.          SEJARAH BAHASA INDONESIA.
Sejarah awal mula bahasa Indonesia dimulai dari masa kejayaan Sriwijaya yang menggunakan bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang-cabang bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca (bahasa persatuan) di Nusantara sejak abad-abad awal penanggalan modern. Istilah Melayu ini dia ambil dari daerah asalnya, yaitu; kerajaan Malaya yang bertempat di Batang Hari, Jambi. Bahasa Melayu yang digunakan di Jambi tatkala itu menggunakan dialek “ O “ yang kemudian hari bahasa dan dialek Melayu tersebut berkembang menjadi luas dan beragam.

Adapun sejarah awal perkembangan bahasa Indonesia, awalnya; pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat digunakan untuk membantu proses administrasi bagi kalangan pegawai pribumi, dikarenakan penguasaan bahasa Belanda dinilai lemah bagi mereka. Kemudian pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Dimulai pada tahun 1901, Indonesia yang tatkala itu disebut dengan Hindia-Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen, ejaan Van Ophuijsen dimulai pada tahun 1896 dengan diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu oleh Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Kemudian pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu(yang kemudian menjadi bagian dari Malaysia) dibawah kekuasaan Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.
Kemudian intervensi pemerintah Hindia-belanda(VOC) semakin kuat pada tahun 1908, dengan didirikannya badan penerbit buku-buku bacaan yang dinamakan Commissie voor de volkslectuur(Komisi Bacaan Rakyat -KBR-). Pada tahun 1910 komisi ini, dibawah pimpinan D.A Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan di beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam 2 tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Dan pada tahun 1917 komisi ini diubah menjadi Balai Pustaka yang menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun pertanian, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
Pada tahun 1918 di Wageningen, seorang wakil pelajar Indonesia di Nederland yang aktif dalam gerakan nasional, memberikan usul dalam kongres Indonesisch Verbond van studeerenden(Perserikatan Pelajar Indonesia) agar bahasa Melayu di pakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah Indonesia.
Pada tanggal 2 Mei 1926, diadakan sebuah rapat panitia perumus Kongres Pemuda Indonesia Pertama, yang diketuai oleh  Moehammad Tabrani. Dalam cuplikan pidatonya Moehammad Tabrani berkata “Kita sudah mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia. Kita sudah mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Mengapa kita harus mengaku bahasa persatuan, bukan bahasa Indonesia?...  ……Bahasa persatuan hendaknya bernama bahasa Indonesia. Kalau bahasa Indonesia belum ada, kita lahirkan bahasa Indonesia melalui Kongres Pemuda Pertama ini.”
Kemudian pada bulan Oktober 1928, pemuda-pemuda Indonesia mengadakan kongres keduanya, yang keputusan-keputusannya dikenal sebagai Sumpah Pemuda, keputusannya adalah “Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Dan resmi bahasa Indonesia diakui sebagai “Bahasa Persatuan Bangsa” pada kongres tersebut.